chatting yuk.....!!!

Pages

Senin, 05 April 2010

“PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE BERCERITA BERPASANGAN PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS VI SEKOLAH DASAR”

Oleh: Heru Subrata
Ringkasan:
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tidak dapat dipungkiri bahwa model pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan yang dikembangkan dan diterapkan oleh guru di sekolah dasar sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
Kegiatan pembelajaran yang masih dilakukan secara klasikal dengan model yang banyak diwarnai dengan ceramah dan bersifat guru sentris menyebabkan siswa kurang aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu pembelajaran bahasa Indonesia pada hakekatnya adalah belajar untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi secara lisan dan tertulis dengan menggunakan bahasa Indonesia di segala
fungsinya.
Berdasarkan uraian di atas maka kiranya perlu diterapkan suatu metode belajar yang menjadikan siswa aktif dan menyenangkan sehingga prestasi belajarnya meningkat maka dari itu diadakan penelitian tentang bagaimana proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan dan apakah melalui pembelajaran tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI sekolah dasar.
Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif yaitu metode yang tidak menguji hipotesis melainkan hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti.
Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar anak.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Pada hakekatnya pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia yaitu belajar berkomunikasi dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dalam segala fungsinya yaitu sebagai sarana berpikir atau bernalar.
Di lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah, keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi belajarnya. Kualitas dan keberhasilan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru memilih dan menggunakan metode pengajaran.
Kenyataan di lapangan, khususnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, kegiatan pembelajarannya masih dilakukan secara klasikal. Pembelajaran lebih ditekankan pada model yang banyak diwarnai dengan ceramah dan bersifat guru sentris. Hal ini mengakibatkan siswa kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan siswa hanya duduk, diam, dengar, catat dan hafal. Kegiatan ini mengakibatkan siswa kurang ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang cenderung menjadikan mereka cepat bosan dan malas belajar.
Melihat kondisi demikian, maka perlu adanya alternatif pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana siswa belajar menemukan sendiri informasi, menghubungkan topik yang sudah dipelajari dan yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat berinteraksi multi arah baik bersama guru maupun selama siswa dalam suasana yang menyenangkan dan bersahabat. Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagaimana yang disarankan para ahli pendidikan adalah pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan.
Pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan pada anak untuk bekerja sama dengan tugas-tugas terstruktur (Lie, 1999:12). Melalui pembelajaran ini siswa bersama kelompok secara gotong royong maksudnya setiap anggota kelompok saling membantu antara teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompok tersebut sehingga di dalam kerja sama tersebut yang cepat harus membantu yang lemah, oleh karena itu setiap anggota kelompok penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah kegagalan kelompok dan sebaliknya keberhasilan siswa individual adalah keberhasilan kelompok. Sedangkan bercerita berpasangan merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif. Yang membedakan tipe bercerita berpasangan dengan lainnya adalah dalam tipe ini guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di kelas VI Sekolah Dasar?
2. Apakah keuntungan dan kelemahan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar?
C. Tujuan Penulisan
Melalui penulisan ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui bagaimana proses belajar mengajar Bahasa Indonesia dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan di kelas VI Sekolah Dasar.
2. Mengetahui keuntungan dan kelemahan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas VI Sekolah Dasar.
D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari hasil penulisan ini adalah :
1. Bagi penulis atau mahasiswa PGSD, dapat dijadikan sebagai salah satu modal pembelajaran yang nantinya dapat diterapkan pada saat terjun langsung di masyarakat.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran di sekolah guna meningkatkan prestasi belajar siswa.
3. Bagi siswa, dapat memotivasi siswa dalam beraktifitas atau berpikir secara optimal dalam metode kooperatif agar siswa tidak jenuh dan bosan.
E. Batasan Masalah
Agar dalam pembahasan penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan maka :
1. Penelitian ini hanya membatasi pada penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan.
2. Penelitian ini difokuskan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pokok bahasan mendengarkan berita.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Kooperatif
Sistem pembelajaran kooperatif bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergatungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama dan proses kelompok. Metode pembelajaran kooperatif disebut juga metode pembelajaran gotong royong. Ironisnya model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan, walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Kebanyakan pengajar enggan menerapkan sistem kerja sama di dalam kelas karena beberapa alasan. Alasan yang utama adalah kekhawatiran bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam grup. Selain itu, banyak orang mempunyai kesan negatif mengenai kegiatan kerja sama atau belajar dalam kelompok.
Menurut Bannet (1991), cooperative learning adalah kerja kelompok, tetapi tidak semua kerja kelompok merupakan pembelajaran kooperatif. Unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah :
1. Ketergantungan yang positif
2. Akuntabilitas individual
3. Interaksi tatap muka
4. Ketrampilan sosial
5. Prosesing
Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan :
a. Saling ketergantungan positif
b. Tanggung jawab perseorangan
c. Tatap muka
d. Komunikasi antar anggota
e. Evaluasi proses kelompok
a. Saling ketergantungan positif
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk mencapai kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.
Penilaian juga dilakukan dengan cara yang unik. Setiap siswa mendapat nilainya sendiri dan nilai kelompok. Nilai kelompok dibentuk dari “sumbangan” setiap anggota. Untuk menjaga keadilan, setiap anggota menyumbangkan poin di atas nilai rata-rata mereka. Misalnya nilai rata-rata si A adalah 65 dan kali ini dia mendapat 72, maka dia akan menyumbangkan 7 poin untuk nilai kelompok mereka. Dengan demikian, setiap siswa akan bisa mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan. Beberapa siswa yang kurang mampu tidak akan merasa minder terhadap rekan-rekan mereka karena toh mereka enggan memberikan sumbangan. Malahan merasa terpacu untuk meningkatkan usaha mereka dan dengan demikian menaikkan nilai mereka. Sebaliknya, siswa yang lebih pandai juga tidak akan merasa dirugikan karena rekannya yang kurang mampu juga telah memberikan bagian sumbangan mereka.
b. Tanggung jawab perseorangan
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode pembelajaran kooperatif adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya. Masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
c. Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala saja. Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing kelompok. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi.
d. Komunikasi antar anggota
Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
e. Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Format evaluasi bisa bermacam-macam tergantung pada tingkat pendidikan siswa.
Tujuan pembelajaran kooperatif antara lain dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa, menumbuhkan sikap saling menghormati dan bekerja sama, menumbuhkan sikap tanggung jawab, meningkatkan rasa percaya diri, dapat belajar memecahkan masalah dengan cara yang lebih baik.
Pembelajaran kooperatif terdapat berbagai teknik/tipe yang dapat diterapkan antara lain :
a. Mencari Pasangan (make a match), dikembangkan oleh Lorna Curran (1994).
b. Bertukar Pasangan
c. Berpikir – Berpasangan – Berempat, dikembangkan oleh Frank Lyman (Think – Pair – Share) dan Spencer Kagan Think – Pair – Square).
d. Berkirim Salam dan Soal
e. Kepala Bernomor (Numbered Heads), dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992).
f. Kepala Bernomor Terstruktur
g. Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Guests), dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992).
h. Keliling Kelas
i. Lingkaran Kecil Lingkaran Besar
j. Tari Bambu
k. Jigsaw, dikembangkan oleh Aronsol et al.
l. Bercerita Berpasangan
Menurut Savage (1996:222) dalam pembelajaran kooperatif diperlukan keputusan dari guru untuk mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menentukan topik yang akan digunakan dalam kerja kelompok.
b. Membuat keputusan tentang ukuran dan komposisi kelompok.
c. Menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
d. Memantau kerja siswa dalam kelompok.
e. Memberikan saran penyelesaian masalah yang cocok.
f. Evaluasi serta memberikan saran-saran.
Dalam metode pembelajaran kooperatif siswa juga bisa belajar dari sesama teman. Guru lebih berperan sebagai fasilitator. Tentu saja, ruang kelas juga perlu ditata sedemikian rupa, sehingga menunjang pembelajaran kooperatif. Tentu saja, keputusan guru dalam penataan ruang kelas harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi ruang kelas dan sekolah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah :
a. Ukuran ruang kelas
b. Jumlah siswa
c. Tingkat kedewasaan siswa
d. Toleransi guru dan kelas sebelah terhadap kegaduhan dan lalu lalang siswa
e. Toleransi masing-masing siswa terhadap kegaduhan dan lalu lalang siswa
f. Pengalaman guru dalam melaksanakan metode pembelajaran gotong royong
g. Pengalaman siswa dalam melaksanakan pembelajaran gotong royong.
Seperti telah diungkapkan, tidak semua kerja kelompok bisa dianggap sama dengan model pembelajaran kooperatif. Pengelolaan kelas model pembelajaran kooperatif bertujuan untuk membina pembelajar dalam mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pembelajar lainnya. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas model pembelajaran kooperatif yaitu pengelompokkan, semangat kooperatif, dan penetaan ruang kelas.
B. Pembelajaran Kooperatif Tipe Bercerita Berpasangan
Teknik mengajar Bercerita Berpasangan (Paired Storylelling) dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran (Lie, 1994). Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun bercerita. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Bahan pelajaran yang palin cocok digunakan dalam teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.
Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini, siswa diransang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Buah-buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi. Bercerita berpasangan bisa digunakan untuk suasana tingkatan usia anak didik.
Tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan antara lain :
1. Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
2. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Dalam kegiatan ini, pengajar perlu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar bukanlah tujuannya. Yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberi hari itu.
3. Siswa dipasangkan.
4. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama. Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
5. Kemudian siswa disuruh mendengarkan atau membaca bagian mereka masing-masing.
6. Sambil membaca/mendengarkan, siswa disuruh mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing. Jumlah kata/frasa bisa disesuaikan dengan panjang teks bacaan.
7. Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.
8. Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca/didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca/didengarkan (atau yang sudah dibaca/didengarkan pasangannya) berdasarkan kata-kata/frasa-frasa kunci dari pasangannya. Siswa yang telah membaca/mendengarkan bagian yang pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sedangkan siswa yang membaca/mendengarkan bagian yang kedua menuliskan apa yang terjadi sebelumnya.
9. Tentu saja, versi karangan sendiri ini tidak harus sama dengan bahan yang sebenarnya. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Setelah selesai menulis, beberapa siswa bisa diberi kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.
10. Kemudian, pengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
11. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilaksanakan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.
BAB III
METODOLOGI PENULISAN
Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif, yaitu metode yang tidak menguji hipotesis melainkan hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti.
Penulisan karya ini termasuk penelitian dengan pendekatan kualitatif yang datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya atau apa adanya (naturalistik), tidak diubah dalam bentuk simbol-simbol atau bilangan dengan maksud untuk menemukan kebenaran dibalik data yang objektif dan cukup. Penelitian ini lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada nalisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah. Hal ini bukan berarti pendekatan kualitatif sama sekali tidak menggunakan dukungan data kuantitatif akan tetapi penekanannya tidak pada pengujian hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara-cara berpikir formal dan argumentatif. Banyak penelitian kualitatif merupakan penelitian sampel kecil.
Data atau informasi yang diajring penelitian kualitatif dapat terbentuk gejala yang sedang berlangsung, reproduksi ingatan, pendapat yang bersifat teoritis atau praktis dan lain-lainnya. Data tersebut baik berupa kata atau tindakan, oleh karena itu analisis isi lebih penting.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumenter. Istilah dokumenter atau dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Alat pengumpul datanya disebut form dokumen atau form pencatatan dokumen. Sedangkan sumber datanya berupa catatan atau dokumen. Metode dokumenter dengan demikian berarti upaya pengumpulan data dengan menyelidiki benda-benda tertulis. Benda tertulis tersebut dapat berupa catatan resmi seperti buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan lain-lainnya, atau catatan tidak resmi, berupa catatan ekspresif seperti catatan harian, bibliografi dan lain sebagainya.
Analisis data kualitatif menurut Lexy J. Moleong (1994:196) sebagai berikut:
a. Menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber.
b. Reduksi data.
c. Menyusun data hasil reduksi ke dalam satuan-satuan.
d. Melakukan kategorisasi terhadap satuan-satuan data sambil membuat kodig.
e. Uji keabsahan data.
f. Penafsiran data dalam mengubah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.
g. Penarikan kesimpulan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Dari hasil analisis buku-buku yang berkaitan dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar, penulis dapat menyusun rencana pembelajaran yang sesuai.
Di bawah ini adalah contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / semester : VI / I
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : 2. Memberikan informasi dan tanggapan secara lisan
Kompetensi Dasar : 2.1. Menyampaikan pesan/informasi yang diperoleh dari berbagai media dengan bahasa yang runtut, baik dan benar
Indikator : 1. Mencatat pokok-pokok isi berita televisi atau radio yang didengarkan.
2. Menuliskan pokok-pokok isi berita ke dalam satu kalimat atau lebih.
3. Menyampaikan hasil karangan yang berasal dari perbandingan catatan sendiri dengan catatan teman satu kelompok.
I. TUJUAN PEMBELAJARAN
• Siswa dapat mencatat pokok-pokok isi berita televisi atau radio yang didengarkan.
• Siswa dapat menuliskan pokok-pokok isi berita ke dalam satu kalimat atau lebih.
• Siswa dapat menanggapi dan menyimpulkan isi berita yang didengar.
• Siswa dapat menyampaikan hasil karangan mereka.
II. MATERI POKOK
Berita televisi atau radio
III. METODE PEMBELAJARAN
• Metode pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan
IV. LANGKAH PEMBELAJARAN
A. Kegiatan Awal
 Menciptakan lingkungan : salam pembuka dan berdo’a
 Tanya jawab mengenai berita
 Mengulang sepintas materi yang lalu yang berhubungan dengan materi hari ini.
B. Kegiatan Inti
 Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 2 orang siswa (berpasangan).
 Sebelum memberikan tugas kepada siswa, guru menjelaskan materi dan langkah pengerjaan tugas.
 Guru membagi berita menjadi 2 bagian.
 Siswa pertama pada tiap kelompok mendengarkan berita bagian pertama, siswa kedua mendengarkan berita bagian kedua.
 Siswa mendengarkan bagian berita mereka masing-masing kemudian menuliskan pokok-pokok isi berita mereka.
 Setelah selesai mendengarkan siswa saling menukar pokok-pokok isi berita dengan pasangan masing-masing.
 Kemudian siswa yang telah mendengarkan bagian pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sedangkan siswa yang mendengarkan bagian kedua menuliskan apa yang terjadi sebelumnya berdasarkan pokok-pokok isi berita yang berasal dari pasangannya.
 Setelah selesai membuat karangan, guru meminta sebagian siswa membacakan hasil karangan mereka.
 Guru membagikan bagian berita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa.
C. Kegiatan Akhir
 Setiap pasangan berdiskusi dengan pasangan lain atau dengan seluruh kelas tentang berita yang dikerjakan tadi.
 Guru membuat kesimpulan dari kegiatan pada pertemuan inti.
 Guru melakukan tes dengan memberi pertanyaan lisan kepada siswa.
 Guru memberi tugas rumah kepada siswa untuk menuliskan pokok-pokok berita televisi.
V. ALAT DAN SUMBER BELAJAR
• Naskah berita radio atau televisi
• Buku paket Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar
• KTSP
• Cinta Bahasa Kita 6, Ganeca Exact, 2004.
VI. PENILAIAN
• Tes lisan : Tanya jawab
• Penilaian proses : Dilakukan melalui pengamatan saat peserta didik melakukan kegiatan.
• Tes perbuatan : Diskusi
Surabaya, Juni 2007
Mengetahui
Kepala Sekolah Guru
Keuntungan dan kelemahan strategi belajar mengajar menggunakan teknik kerja kelompok antara lain :
Keuntungan :
a. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan ketrampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah.
b. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan ketrampilan berdiskusi.
c. Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka, dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi.
d. Dapat memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang lain; hal mana mereka telah saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama.
e. Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhannya belajar.
Kelemahan :
a. Menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda-beda pula.
b. Keberhasilan strategi kerja kelompok ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri.
B. Pembahasan
Berdasarkan dari hasil analisis data yang diperoleh dari analisis dokumen, penulis sudah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir untuk menerapkan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI Sekolah Dasar. Pengajaran yang dilakukan oleh guru adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan seperti itu memberikan kesempatn kepada siswa untuk berdiskusi, bertanya, maupun mengeluarkan pendapat, serta berinteraksi dengan siswa yang menjadikan siswa aktif dalam kelas. Dengan demikian peran guru di dalam kelas bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar tetapi lebih bersifat sebagai penggerak atau pembimbing siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang diperoleh siswa sendiri akan lebih melekat lebih lama di pikiran dan menjadikan prestasi belajar siswa meningkatkan. Pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Oleh karena itu pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan sangat cocok untuk pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan merangsang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Buah-buah pemikiran siswa akan dihargai, sehingga siswa merasa semakin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi. Di samping itu situasi kelas menjadi menyenangkan dan bersahabat.
Penerapan pembelajaran kooperatif ini tergolong masih relatif baru dan belum banyak diterapkan di kelas-kelas. Oleh karena itu dalam menerapkan pembelajaran kooperatif ini menemukan berbagai kendala di antaranya yaitu kesulitan mengkoordinasikan siswa kepada situasi yang dikehendaki tipe bercerita berpasangan. Siswa-siswa sebagian besar masih belum mengerti dan banyak bertanya tentang apa yang harus dilakukan, sehingga banyak menyita waktu dan perhatian guru. Di samping itu guru juga harus mengatur tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda-beda pula.
Untuk mengatasi kendala tersebut yang dilakukan oleh guru adalah memberikan pengertian dan penjelasan berulang mengenai segala sesuatu yang harus dilakukan oleh siswa agar sesuai dengan prosedur yang diinginkan. Karena yang dihadapi adalah anak usia SD maka guru sebaiknya menggunakan langkah pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan yang sesuai dengan keadaan dan kemampuan siswa.
Kemudian untuk masalah tempat duduk siswa, guru dapat mengatur penetaan bangku yang berbeda-beda misalnya dengan meja tapal kuda, meja panjang, penataan tapal kuda, meja laboratorium, meja kelompok, klasikal, bangku individu dengan meja tulisnya, meja berbaris.
Pengalaman guru dan siswa pada pembelajaran kooperatif juga turut menentukan keberhasilan dalam pembelajaran.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif atau kerja sama antar kelompok yang anggota kelompok saling membantu antar teman yang satu dengan teman yang lain dalam kelompok tersebut, sehingga di dalam kerja kelompok atau pembelajaran kooperatif, siswa yang lebih pandai dapat membantu siswa yang lemah.
Dengan adanya model pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan siswa dapat lebih aktif untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Di samping itu pembelajaran ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk diskusi, bertanya, maupun mengeluarkan pendapat serta berinteraksi dengan siswa yang menjadikan siswa aktif dalam kelas.
Penerapan pembelajaran kooperatif memiliki kendala di antaranya kesulitan mengkoordinasikan siswa kepada situasi yang dikehendaki. Dan juga terdapat kelemahan pada teknik belajar kelompok misalnya mengatur penataan bangku yang berbeda-beda dan model/gaya mengajar yang berbeda-beda pula.
B. Saran
Bertitik tolak dari hasil pembahsan, maka dapat dikemukan saran-saran yang kiranya berguna dalam proses pembelajaran :
a. Mengingat metode pembelajaran kooperatif tipe bercerita berpasangan untuk meningkatkan prestasi belajar, maka hendaknya guru menerapkan metode pembelajaran ini di kelas sebagai selingan metode-metode belajar yang sudah ada.
b. Pembelajaran ini hendaknya diterapkan secara kontinu baik untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia maupun pelajaran yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Saifuddin. 2005. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Depdiknas. 2006. Kurikulum SD/MI Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdiknas.
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta : Gramedia.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Rofi’uddin, Ahmad, dkk. 1999. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta : Depdikbud.
Rostiyah, N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Wibowo, Teguh. 2004. Cinta Bahasa Kita 6. Jakarta : Ganeca Exact.

Inspirasi : Pendidikan untuk anak-anak

Ini saya posting tulisannya Dorothy L. Nolte tentang pendidikan untuk anak-anak.
Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi anda semua :
Jika anak-anak hidup dengan kritikan, mereka belajar untuk mengutuk.
Jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan.

Jika anak-anak hidup dengan rasa takut, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan.
Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk merasa menyesal sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan olokan, mereka belajar untuk merasa malu.
Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri hati.
Jika anak-anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah.
Jika anak-anak hidup dengan semangat, mereka belajar percaya diri.
Jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran.
Jika anak-anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi.
Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk cinta.
Jika anak-anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar seperti itu sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bagus untuk memiliki tujuan.
Jika anak-anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kedermawanan.
Jika anak-anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar sebenarnya.
Jika anak-anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan.
Jika anak-anak hidup dengan baik-baik, mereka belajar menghargai.
Jika anak-anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
Jika anak-anak hidup dengan keramahan, mereka belajar di dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.

JADILAH GURU YANG BAIK (Tujuh Hukum Mengajar)

John  Milthon  Gregory  merupakan  penulis  buku  yang  terkenal  tentang Tujuh  Hukum  Mengajar.  Inilah  beberapa  petunjuk  yang  perlu  dipersiapkan oleh seorang guru yang baik.
  1. Persiapkan   bahan   pelajaran   dengan   mempelajarinya   berulang-ulang. Jangan mengandalkan bahwa kita sudah pernah mempelajarinya karena apa yang kita ketahui dahulu pasti sebagian sudah terhapus dari ingatan kita.
  2. Carilah   urutan   yang   logis   dari   tiap   bagian   dalam   pelajaran   yang dipersiapkan tersebut. Setiap pelajaran selalu berangkat daripengertian-pengertian dasar yang sederhana baru ke tingkat pengertian yang tinggi. Pelajari urut-urutan yang logis dari pelajaran yang dipersiapkan tersebut sampai  terwujud  suatu  pengertian  yang  dapat  saudara  uraikan  dengan kata-kata sendiri.
  3. Carilah analogi atau ilustrasi untuk mempermudah penjelasan fakta-fakta dan prinsip-prinsip yang sulit dimengerti oleh siswa. Khususnya prinsip-prinsip abstrak.
  4. Carilah  hubungan  antara  apa  yang  diajarkan  dan  kehidupan  sehari-hari siswa.  Hubungan-hubungan  inilah  yang  akan  menentukan  nilai  praktis penerapan dari pelajaran itu.
  5. Gunakan  sebanyak  mungkin  sumber  referensi  berupa  buku-buku  atau bahan-bahan yang sesuai, tetapi pahami dahulu sebaik-baiknya sebelum menyampaikan kepada siswa.
  6. Harap  diingat  bahwa  lebih  baik  mengerti  sedikit,  tetapi  benar-benar mantap daripada mengetahui banyak, tetapi kurang mendalam.
  7. Sediakan waktu yang khusus untuk mempersiapkan tiap pelajaran sebelum berdiri  di  depan  kelas.  Dengan  persiapan  matang,  kita  akan  semakin menguasai pengetahuan dan gambaran apa yang diajarkan akan semakin jelas.
Sumber: John Milthon Gregory. Tujuh Hukum Mengajar

8 keterampilan mengajar

Turney (1973) mengemukakan 8 (delapan) keterampilan dasar mengajar, yakni:
Pertama, keterampilan bertanya yang mensyaratkan guru harus menguasai teknik mengajukan pertanyaan yang cerdas, baik keterampilan bertanya dasar maupun keterampilan bertanya lanjut
Kedua, keterampilan memberi penguatan. Seorang guru perlu menguasai keterampilan memberikan penguatan karena penguatan merupakan dorongan bagi siswa untuk meningkatkan perhatian.

Ketiga, keterampilan mengadakan variasi, baik variasi dalam gaya mengajar, penggunaan media dan bahan pelajaran, dan pola interaksi dan kegiatan
Keempat, keterampilan menjelaskan yang mensyaratkan guru untuk merefleksi segala informasi sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Setidaknya, penjelasan harus relevan dengan tujuan, materi, sesuai dengan kemampuan dan latar belakang siswa, serta diberikan pada awal, tengah, ataupun akhir pelajaran sesuai dengan keperluan.
Kelima, keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Dalam konteks ini, guru perlu mendesain situasi yang beragam sehingga kondisi kelas menjadi dinamis.
Keenam, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil. Hal terpenting dalam proses ini adalah mencermati.aktivitas siswa dalam diskusi.
Ketujuh, keterampilan mengelola kelas, mencakupi keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, serta pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Kedelapan, keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, yang mensyaratkan guru agar mengadakan pendekatan secara pribadi, mengorganisasi-kan, membimbing dan memudahkan belajar, serta merencanakan dan melaksana-kan kegiatan belajar-mengajar.

Sabtu, 20 Maret 2010

Tanda-Tanda Kedewasaan


(Al Fikrah No.11 Tahun VIII/22 Jumadil Awal 1428 H)

Tanda-tanda seseorang menjadi dewasa telah banyak diketahui setiap orang. Bagi laki-laki biasanya ditandai dengan "mimpi basah", dan beberapa ciri lain yang menyertai. Sedangkan pada wanita, kedewasaan itu ditandai dengan keluarnya darah haid.


Namun fenomena yang terjadi di mayarakat saat sekarang ini, usia "tujuh belas tahun" dianggap sebagai tanda kedewasaan seseorang. Maka terkadang timbul pertanyaan, haruskah 17 tahun tanda kedewasaan itu? Dan bagaimana syariat Islam menyikapi usia 17 tahun tersebut?

Dewasa dengan Ibadah
Bertambahnya usia menjadi dewasa bukannya sepi dari tantangan atau lepas dari tanggung jawab, bahkan dengan bertambahnya usia menjadi dewasa, maka tantangan dan tanggung jawab makin berat. Bagi kaum muslimin, bertambahnya usia menjadi dewasa merupakan kewajiban bagi setiap seseorang untuk taat beribadah dan menjalankan syariat Islam ini secara sempurna, sebagaimana firman Allah Allah Subhaanahu wa Ta'ala (artinya),
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (QS. Adz-Dzariyat:56).

Akan tetapai sangat disayangkan, fenomena yang terjadi di masyarakat dan khususnya kaum Muslimin sangat jauh dari ayat di atas. Bahkan sebagian di antara kaum Muslimin dengan bertambahnya usia menjadi 17 tahun, ada yang beranggapan dengan usia tersebut seseorang tidak mengapa pacaran, menonton film-film tujuh belas tahun ke atas. Dan parahnya lagi, anggapan bahwa pada usia tujuh belas tahun tersebut, seseorang boleh melakukan adegan percintaan. Begitulah anggapan masyarakat dan kaum Muslimin saat sekarang ini. Na'adzu billahi min dzalik, kita memohon kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala agar dilindungi dari hal-hal yang seperti "itu".

Ada empat hal yang melatarbelakangi sehingga anggapan itu terjadi;

1. Cinta dunia.
Banyak di antara pemuda kita yang lebih mengutamakan hawa nafsunya dan lebih mengedepankan kenikmatan dunia dibanding kenikmatan beribadah. Hawa nafsu dan dunia lebih dicintai dibandingkan melaksanakan ketaatan pada-Nya. Begitulah, akhirnya mereka pun lebih cenderung untuk melakukan kemaksiatan.

2. Kurangnya pemahaman yang benar terhadap agama Allah Subhaanahu wa Ta'ala, dan keengganan menuntut ilmu syar'i.
Akibatnya bisa ditebak, bahwa pemuda Islam beranggapan usia tujuh belas tahun adalah usia hura-hura. Akhirnya mereka tak menyadari sudah jatuh ke dalam lubang dosa karena kejahilannya terhadap agama Allah U dan lalai terhadap hukum dan siksa Allah yang bisa datang kapan saja.

3. Lalai dengan tujuan penciptaannya, sebagaimana yang kami telah sebutkan di awal pembahasan.
Banyaknya orang yang sekadar hidup makan, minum, menyalurkan syahwat belaka, dan tidak perduli dengan tujuan kehidupannya, atau bahkan tak tahu tujuan hidupnya. Laa haula wa laa quwwata illah billah.

4. Tidak berpikir untuk bekal di akhirat yang perjalanannya sangat panjang untuk ditempuh dan sifatnya kekal (selama-lamanya).
Ini akibat anggapan mereka yang mengatakan bahwa usia tujuh belas tahun itu hanya untuk hura-hura saja, yang akhirnya mereka pun melupakan kematian yang dapat menghancurkan kenikmatan yang ada di dunia ini dan angan-angan seseorang, yang mana kematian tersebut bukan hanya datang pada usia ketika seseorang sudah tua, akan tetapi sebaliknya, begitu banyak pemuda yang telah mendahului orang-orang yang lebih tua.

Syariat Segala Umur
Sebenarnya Islam telah mengaturnya, dan hebatnya lagi Islam lebih unggul dari pemikiran tersebut. Jika sebagian orang menganggap bahwa usia tujuh belas tahun seseorang telah dianggap sebagai dewasa, maka Islam menganggap usia sebelum itu sudah merupakan kedewasaan. Buktinya, ketika seseorang berada pada usia 14 tahun, lalu orang tersebut telah mendapatkan atau mengalami tanda-tanda kedewasaan yang sebagaimana telah kita sebutkan yaitu bagi laki-laki biasanya ditandai dengan mimpi basah, dan perempuan biasanya ditandai dengan keluarnya darah kotor (haid). Maka ketika itu Islam menganggap seseorang telah dewasa dan siap menjalankan syariat dengan penuh tanggung jawab. Sebagimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,yang artinya:
"Diangkat pena (tidak dikenai kewajiban menjalankan syariat) dari tiga golongan: Orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia besar (bâligh), dan orang gila hingga ia berakal atau sadar." (HR. Nasai).

Maka kita dapat pahami bahwa Islam tidak menetapkan standarisasi usia kedewasaan seseorang, namun ketika seseorang telah baligh maka Islam telah menganggap orang tersebut telah dewasa dan tidak perlu menunggu sampai usia tujuh belas tahun. Apabila seseorang telah sampai pada balighnya maka ia adalah orang yang wajib melaksanakan syariat ini, seperti shalat, puasa, haji, dan lain-lain.

Bahkan pada usia tersebut, secara syariat sudah bisa malaksanakan pernikahan sehingga tidak mesti melakukan perbuatan maksiat seperti pacaran yang banyak dilakukan muda mudi pada usia tersebut. Begitu juga usia tujuh belas tahun tidak ada kekhususan atau keistimewaan menurut Islam. Akan tetapi Islam sekali lagi telah mengajarkan kepada kita bahwa pada usia berapa pun seseorang tetaplah terikat pada syariat selama ia telah baligh, masih berakal sehingga mampu membedakan benar dan salah. Sampai-sampai Islam mengajarkan juga hal yang dianggap kecil atau sepeleh bagi orang-orang yang mengaku dirinya sudah "dewasa", yaitu bercampur baur (berkumpul bersama-sama lawan jenis), melihat aurat lawan jenis, menonton film-film yang berlabel 17 tahun ke atas, atau bahkan adegan percintaan.Maka kita dapat memahami bahwa Islam tidak mengharuskan seseorang berumur tujuh belas tahun agar dapat dikatakan dewasa atau sudah baligh.

Saatnya Berubah dan Bertaubat
Usia tujuh belas tahun menurut sebagian orang adalah masa-masa indah, hura-hura dan tentunya semua kesenangan yang menggiurkan. Namun tidak begitu halnya dengan seorang Muslim atau Muslimah yang bertanggung jawab. Usia tujuh belas tahun itulah yang merupakan titik atau awal mula bagi kaum Muslim maupun Muslimah untuk membenahi diri, mengenali potensi diri dan mengembangkannya di jalan yang positif (selaras dengan koridor syar'i). Inilah ciri pribadi Muslim atau Muslimah yang bertanggung jawab. Beginilah semestinya kaum Muslim atau Muslimah yang telah dewasa. Bukan masanya lagi bagi kita yang telah menjadi dan dianggap dewasa untuk bersenang-senang sehingga lupa tujuan hidup. Dan usahakanlah untuk menjadikan hari esok itu lebih baik dari hari-hari sebelumnnya, dan segeralah bertaubat kepada Allah U karena sesungguhnya Allah U Mahaluas ampunan-Nya lagi Mahapenyayang. Sebagaimana firman-Nya (artinya):
"Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53).Wallahu A'lam
Abdul Rasyid Yusuf el-Makassari, (Sumber: Majalah el Fata, edisi 4 Vol. 07 th 2007)

Selasa, 16 Maret 2010

Tips Mengatasi Demam Facebook Pada Anak Praremaja

Kekhawatiran orang tua menghadapi anak yang tergila-gila facebook dan chatting biasanya diikuti dengan larangan atau pemutusan akses internet, seperti penghentian berlangganan internet dan memotong uang pulsa. Namun efektifkah larangan yang ditetapkan tersebut? Benarkah anak akan mematuhinya atau malah mencari jalan lain untuk memuaskan kecanduan facebooknya?.
Sudahkah orang tua memahami arti teman bagi seorang praremaja?. Facebook adalah media yang sangat mengasyikan bagi mereka untuk "bertemu" dengan teman-temannya. Pembicaraan yang nyambung, istilah-istilah yang seru yang hanya dimengerti oleh mereka, membuat mereka menjadi terikat dan diakui keberadaannya tanpa orang lain perlu tahu identitas dia yang sebenarnya. Pertimbangkanlah manfaat yang diperoleh anak sebelum anda melarangnya. Dengan chatting, anak yang introvert bisa berubah menjadi lebih komunikatif, terlatih untuk menulis dan juga mempunyai kesempatan memiliki teman seluas-luasnya, sekaligus bisa mengasah keterampilan berbahasa asing. Jika anak dilarang biasanya akan menimbulkan rasa penasaran yang lebih besar. Mereka akan mencari jalan lain supaya tidak ketahuan orang tuanya seperti membuka facebook di rumah teman, atau rela tidak jajan demi facebook-an dan chatting di warnet. Berikut ini adalah tips untuk mengatasi demam facebook dan chatting pada anak praremaja :
1. Mind sharing. Tanyakan kepada praremaja apa yang dia rasakan dan manfaat apa yang dia peroleh dari facebook dan chatting. Dengarkan dengan baik semua yang disampaikannya dan jangan memotongnya. Setelah dia mencurahkan semuanya, ajaklah berdiskusi tentang kerugiannya. Tunjukkan contoh kasus dimana anak seringkali menjadi korban dari chatting di dunia maya.
2. Membuat kesepakatan waktu. Praremaja perlu juga diajak membuat kesepakatan mengenai aturan waktu kapan dan berapa lama boleh mengakses internet. Dengan adanya aturan waktu, kegiatan-kegiatan lain menjadi tidak terabaikan.
3. Ingatkan untuk tidak memberikan informasi pribadi. Beri peringatan anak untuk tidak melayani ajakan perkenalan dengan orang lain jika tidak ada rekomendasi dari teman yang dikenalnya. Jangan memberikan alamat rumah, alamat sekolah, dan nomor telepon kepada orang yang baru dikenalnya karena itu bisa menjadi ancaman kejahatan.
4. Letakkan komputer di ruang keluarga. Mengeluarkan komputer dari dalam kamar anak merupakan langkah yang bijak sebagai salah satu kontrol penggunaan internet.
5. Jadilah contoh yang baik. Jika orang tua sering menghabiskan waktunya di depan komputer untuk berselancar di dunia maya maka jangan salahkan anak jika mengikuti jejaknya.
6. Dampingi anak. Luangkan waktu untuk mendampinginya supaya tahu situs apa saja yang menarik baginya.
7. Ajak aktivitas kegiatan yang lain. Supaya tidak terjerat dalam keasyikan facebook dan chatting, anak harus diberi alternatif kegiatan menarik lainnya seperti berolahraga, bermain musik, outbound, dan lain sebagainya.
8. Hubungi ahlinya. Jika upaya yang dilakukan untuk menolong anak dari kecanduan facebook dan chatting kurang berhasil, segera hubungi psikolog untuk melakukan konseling. Mereka akan melakukan observasi lebih dalam supaya bisa menemukan jalan keluar yang lebih baik.

Selasa, 02 Maret 2010

java script

 J a v a  S c r i p t

Kelihatannya bakalan sangat sulit nih!. Ah tidak juga karena yang kita bahas kali ini hanya
meliputi pembuatan window pop-up, no right click, tanggal dan script ringan lainnya. Kita tidak
akan membahas penggunaan javascript untuk membuat animasi yang “berat”. Materi yang
harus anda kuasai hanya seputar:


ƒ  Pengertian Javascript
ƒ  Aplikasi Javascript
ƒ  Input Box
ƒ  Pop Up Window
ƒ  Dilarang Klik Kanan
ƒ  Menampilkan Hari dan Tanggal

     Pengertian Javascript

Javascript merupakan bahasa pemrograman berbasis web dan berorientasi objek atau sering
juga disebut OOP (Object Oriented Programming). Dimana dianggap sebuah objek memiliki
metode, properti dan event yang berbeda. Contohnya ketika kita mengklik tombol maka akan
muncul sebuah pesan peringatan. Ketika kursor melintasi link muncul pesan. Itulah beberapa
contoh OOP sederhana.

Kode javascript dalam HTML diapit oleh tag:



seperti halnya CSS kode javascript dapat disimpan pada sebuah file. Untuk mengaksesnya
digunakan perintah



Sebenarnya isi dari language tidak hanya javascript tetapi anda juga dapat menggunakan
Vbscript. Yaitu bahasa pemrograman berbasis Visual Basic Script. Kita tidak membahas vbscript
karena tidak kompatible dengan browser selain Internet Explorer. Perlu juga anda ketahui
sedikit pengetahuan tentang javascript akan sangat membantu anda dalam memahami bahasa
pemrograman lainnya seperti PHP karena syntaxnya hampir mirip.

Javascript biasanya gunakan untuk event-event tertentu. Seperti event onload, onkeydown,
onkeyup, onchange, onclick dan sebagainya.

PERSIAPAN
Seperti biasa sebelum memulai praktik kita lakukan beberapa persiapan terlebih dahulu.
Buatlah folder baru di direktori C:\HTML beri nama folder tersebut Bab 7. Kita akan menyimpan
semua file yang kita praktikkan pada bab 7 pada folder ini.




    Aplikasi Javascript

    Input Box

1. warning.html

OK, saatnya membuat file javascript pertama kita. Untuk yang pertama kita buat yang mudah
dulu agar tidak kaget. Kali ini kita akan membuat sebuah pesan peringatan sederhana dan input
box. Ini hanya untuk memudahkan anda bagaimana memahami kerja javascript


Gambar 7.0: output file warning.html

Seperti biasa jalankan program favorit kita yaitu PHP DESIGNER 2006 klik menu File-New-
HTML/XHTML. Ketik kode dibawah ini dengan baik dan benar?!?!



Menampilkan pesan Warning



TEMPAT RAHASIA

Sekali lagi saya tegaskan jangan memasuki area ini selain petugas.
BERBAHAYA!!!


Masuk =>



Simpan dengan nama warning.html letakkan di C:\HTML\Bab 7. Jalankan pada browser
hasilnya akan terlihat seperti gambar 7.0.

PENJELASAN SCRIPT
Arti dari var pada script diatas adalah definisi sebuah variabel. Nama variabel pada javascript
selalu diawali syntax var. Isi variabel dapat berupa string(huruf) atau integer(angka). Jika
variabel berjenis string maka selalu diapit oleh tanda ‘.....isi variabel...‘ (petik satu) atau “ ...is
variabel...” (petik dua).

Pada javascript setiap akhir dari suatu baris kode diakhiri dengan tanda ;(titik koma).
Sekarang perhatikan script yang memiliki syntax function. Function merupakan syntax untuk
menuliskan suatu fungsi. Fungsi sangat berguna agar kita tidak perlu menuliskan beberapa
perintah berulang-ulang. Pada script diatas terdapat dua fungsi buatan kita sendiri yaitu fungs
warning() dan fungsi password().

Nama suatu fungsi tidak boleh mengandung spasi dan harus diawali oleh huruf dan haru
ditutup dengan tanda (). Fungsi diapit oleh tanda { .... }. Dalam suatu fungsi bisa terdapat
fungsi lagi. Pada fungsi warning() kita menuliskan alert(pesan), alert() merupakan fungsi buil
in(bawaan) javascript yang fungsinya untuk menampilkan box warning. Begitu pula dengan
prompt() pada fungsi kedua kita, prompt() juga merupakan fungsi built-in javascript yang
fungsinya untuk menampilkan input box.

Pada fungsi password() passwordnya adalah petugas. Tanda != artinya tidak sama dengan.
Fungsi password menggunakan pengambilan keputusan else. else digunakan untuk mengamb
keputusan diantara 2  kejadian. Jadi fungsi password kalau diterjemahkan kedalam bahasa
indonesia yang baik dan benar bunyinya adalah jika password tidak sama dengan petugas mak
munculkan box gagal selain itu munculkan box sukses.


PARAMETER PADA FUNGSI

Lihat pada fungsi alert(pesan), pesan dalam hal ini yang disebut parameter. Fungsi dapat
memiliki lebih dari satu parameter. Pada fungsi yang kita buat pada file warning.html tidak
memilki parameter. Untuk yang kedua ini kita akan buat yang berparameter.

2. warning_2.html

Jalankan PHP DESIGNER 2006 klik File-New-HTML/XHTML. Ketiklah kode dibawah ini untuk
mengetahui lebih banyak tentang parameter.



PARAMETER DALAM FUNGSI



TEMPAT RAHASIA

Sekali lagi saya tegaskan jangan memasuki area ini selain petugas.
BERBAHAYA!!!

Masuk =>



Simpan dengan nama warning_2.html lalu jalankan pada browser gimana sudah ngerti? Apa
perlu dijelaskan? OK saya akan jelaskan sedikit.


Gambar 7.1: output warning_2.html

PENJELASAN SCRIPT
Script yang saya tandai kuning adalah untuk fungsi warning(). Sedangkan yang hijau adalah
untuk fungsi password(). Fungsi warning() memiliki 1 parameter yaitu pesan_kita. Isi dari
alert() nantinya akan diganti oleh input yang kita masukkan saat menjalankan fungsi warning()
dalam hal ini pada saat onload. Karena isi dari alert adalah string maka kita beri tanda petik
pada Dilarang Masuk Selain Petugas!.

Sedangkan untuk fungsi password() memiliki 3 parameter yaitu pesan_prompt, pesan_sukses,
pesan_gagal. Nantinya kita menjalankan fungsi password harus dengan 3 parameter. Pada
script diatas kita menjalankan fungsi password() dengan mengetikkan password(‘Masukkan
Password:’, ‘Password Benar!’, ‘Password Salah’). Jadi ketika user salah memasukkan password
akan muncul box warning yang bertuliskan Password Salah. Sebaliknya jika password benar
akan muncul box warning bertuliskan Password Benar!.

Parameter juga ada yang bersifat optional artinya bersifat pilihan boleh diisi boleh tidak. Jika
kita ingin membuat parameter yang bersifat optional kita harus memberi nilai pada parameter
tersebut. Perhatikan contoh berikut! 
function param_opt(param1, param2 = ‘pilihan’)
{
  if (param 2 != null)
  {
     alert(param1); alert(param2);
  }
else{
   alert(param1);
  }
}

Arti fungsi diatas adalah jika parameter 2 tidak kosong(not null) maka blababla.... selain itu
blablala.... Jadi kita dapat menuliskan parameter tersebut dengan hanya menulis
param_opt(‘pesan no.1’). Kita juga dapat menuliskan 2 parameter untuk fungsi ini yaitu
param_opt(‘pesan no.1’, ‘pesan no. 2’).


     Pop-Up Window

Secara sederhana pop-up window dapat diartikan window tambahan yang muncul mengiringi
window utama. Misalnya kita mengunjungi suatu website tetapi juga muncul window lainnya
setelah website utama muncul. Nah metode ini banyak yang dimanfaatkan para pengiklan
untuk memunculkan iklan mereka.

Makanya banyak muncul istilah pop-up blocker yang artinya menghentikan pemunculan window
pop-up. Pada pembahasan kita kali ini kita akan coba membuat pop-up window. Ya.. tentu
masih menggunakan jurus baru kita yaitu javascript. 

Dalam contoh ini kita akan mambuat dua file. File yang pertama bernama popup_1.html dan
yang kedua adalah popup_2.html. Tugas file popup_1.html adalah memunculkan window
popup_2.html. Sekarang jalankan PHP DESIGNER 2006 klik File-New-HTML/XHTML lalu ketik
kode berikut ini.



Membuat Pop-Up Window


Anda juga dapat membuka window popupnya dari sini

KLIK DISINI



Simpan dengan nama popup_1.html. Kemudian buatlah file baru lagi, ketik kode dibawah ini
untuk window ke dua.


Ini Window Ke 2


Jika anda dapat melihat saya maka anda berhasil

Tutup Window[X]



Simpan dengan nama popup_2.html. Jalankan file popup_1.html. Maka akan muncul
ke dua yaitu file popup_2.html. Perlu anda ketahui jika anda menggunakan browser fire
IE dengan SP 2 maka browser akan block terlebih dahulu dan minta persetujuan anda
window akan ditampilkan. Hasil dari kode diatas akan seperti gambar 7.2

Gambar 7.2: output popup_1.html & popup_2.html

Untuk membuka window lain kita menggunakan metode open dari object window. Meto
memiliki 3 attribut kalau istilah dalam fungsi parameter. Attribut pertama adalah lokasi
yang akan kita buka. Attribut kedua kurang penting yaitu nama window, jika window y
dibuka sudah mempunyai nama maka attribut ini tidak berguna. Attribut yang ketiga in
banyak isinya


    Dilarang Klik-Kanan

Pernahkah anda mengalami saat ketika sedang surfing dan ingin menyimpan gambar y
di website tersebut, namun saat anda mengklik kanan tiba-tiba oops. Sorry, not allowe
the pictures. Kali ini saya akan tunjukkan bagaimana membuatnya. Dan membalas den
pada pengunjung agar tidak bisa menyimpan gambar anda. Just Kidding…!.

Seperti biasa jalankan software favorit kita PHP DESIGNER 2006. Klik menu File-New-
HTML/XHTML. Salin kode berikut ini.



No Right Click



COBA KLIK KANAN




Simpan dengan nama no_klik_kanan.html. Jalankan pada browser anda. Hasilnya akan
terlihat seperti gambar 7.3.


Gambar 7.3: output file no_klik_kanan.html

PENJELASAN SCRIPT
Script diatas dirancang untuk bekerja pada browser Internet Explorer, Netscape Navigatior,
Mozilla dan FireFox. Perhatikan fungsi klik_IE() fungsi ini khusus pada browser IE. Pada fungsi
ini terdapat syntax event. Event merupakan syntax yang digunakan untuk menangani suatu
aksi dari user. Pada script diatas event digunakan untuk menangani penekanan tombol
mouse(button) kanan(2). Jadi ketika user mengklik tombol mouse kanan akan dimunculkan box
warning.

Pada fungsi klik_NS, e dalam hal ini mengindikasikan event yang terjadi bukan parameter.
Fungsi ini khusus untuk browser keluarga Netscape(Navigator, Mozilla, dan Firefox). Tanda || artinya “atau” sama dengan syntax OR sedangkan tanda && aritnya “dan” sama dengan syntax
AND.
Arti dari

 if (document.layers)
{
  document.captureEvents(event.mousedown);
document.onmousedown .....
....

adalah jika pada dokumen terjadi event klik jalankan fungsi klik_NS. Sedangkan fungsi klik_NS
akan memunculkan box warning jika hanya tombol mouse kanan yang diklik. Arti dari kode
dibawahnya juga sama.


    Menampilkan Hari dan Tanggal

Tanggal merupakan elemen yang cocok untuk ditampilkan pada halaman kita. Adanya hari dan
tanggal akan menjadi nilai plus bagi website kita. Pada contoh kali ini kita akan coba membuat
hari dan tanggal sekarang. 

Jalankan PHP DESIGNER 2006 klik menu File-New-HTML/XHTML. Ketik dan nikmati kode
dibawah ini.



Menampilkan Hari dan Tanggal



Hari Ini: .




Simpan dengan nama hari.html, lalu jalankan pada browser. Hasilnya dapat anda lihat pada
gambar 7.4.
 
Gambar 7.4: output file hari.html

PENJELASAN SCRIPT
Bagaiaman keren kan!. Hu..... mesti dari mana menjelaskannya nih. Pada ada beberapa hal
baru bagi anda yaitu Array. Array merupakan variabel yang dapat berisikan beberapa nilai
sekaligus. Nilai index dari array dimulai dari 0. Pada variabel NamaHari berisikan 7 nilai. Yaitu
minggu, senin, dan seterusnya. Karena dimulai dari 0 maka minggu=0, senin=1, selasa=2,
hingga sabtu=6.

Apa artinya ini? Contohnya seperti ini. Jika anda menuliskan fungsi
document.write(NamaHari[2]). Maka ouput dari perintah diatas adalah selasa. Are you
understand now?. Hal yang sama berlaku untuk variabel NamaBulan. 

Pada variabel sekarang isinya adalah new Date(). Date adalah fungsi javascript untuk
mendapatkan tanggal, hari, waktu, tahun sekarang. Disini kita akan menerapkan OOP secara
lebih relevan. 

Variabel HariIni berisi array dari NamaHari. Sekarang merupakan object tanggal dan memiliki
beberapa metode diantaranya getDay() = untuk mendapatkan hari dalam angka 0 sampai 6.
getMonth() = untuk mendapatkan bulan dalam angka antara 0 sampai 11. getDate() =
untuk mendapatkan tanggal 1 sampai 29 atau 30 atau 31. getFullYear() = untuk
mendapatkan tahun dalam 4 digit angka.

Sehingga dapat disimpulkan fungsi sekarang.getNamaFungsi() hanyalah untuk
mengembalikan nilai dalam angka. Sehingga variabel array NamaHari  memiliki angka/index
yang dapat digunakan untuk mengembalikan nama hari dalam string(huruf).

Contohnya kita asumsikan sekarang adalah hari Sabtu tanggal 1 Oktober 2005. jika kita
menuliskan HariIni = NamaHari[sekarang.getDay()];. Maka sekarang.getDay() akan
menghasilkan nilai 6. Ingat NamaHari[6] artinya apa ya Sabtu. Hmm... akhirnya selesai sudah
penjelasan saya.